Pages

Senin, 13 Desember 2010

Makalah Kekuasaan Daendels yang Sentralistik di Indonesia

KEKUASAAN HERMAN WILLEM DAENDELS YANG SENTRALISTIS
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sejarah Indonesia Abad XIX
Dosen pengampu        : Ibu Harianti M.Pd.









           Disusun Oleh :

Bayu Prakoso                      07406244016









  
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH 
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA




PENDAHULUAN
Daendels tiba di Batavia pada tanggal 5 Januari 1808 dan menggantikan Gubernur-Jendral Albertus Wiese. Daendels diserahi tugas terutama untuk melindungi pulau Jawa dari serangan tentara Inggris. Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris setelah Isle de France dan Mauritius pada tahun 1807. Namun demikian beberapa kali armada Inggris telah muncul di perairan utara laut Jawa bahkan di dekat Batavia. Pada tahun 1800, armada Inggris telah memblokade Batavia dan menghancurkan galangan kapal Belanda di Pulau Onrust sehingga tidak berfungsi lagi. Pada tahun 1806, armada kecil Inggris di bawah laksamana Pellew muncul di Gresik. Setelah blokade singkat, pimpinan militer Belanda, Von Franquemont memutuskan untuk tidak mau menyerah kepada Pellew. Ultimatum Pellew untuk mendarat di Surabaya tidak terwujud, tetapi sebelum meninggalkan Jawa Pellew menuntut Belanda agar membongkar semua pertahanan meriam di Gresik dan dikabulkan. Ketika mendengar hal ini, Daendels menyadari bahwa kekuatan Perancis-Belanda yang ada di Jawa tidak akan mampu menghadapi kekuatan armada Inggris. Maka iapun melaksanakan tugasnya dengan segera. Tentara Belanda diisinya dengan orang-orang pribumi, ia membangun rumah sakit-rumah sakit dan tangsi-tangsi militer baru. Di Surabaya ia membangun sebuah pabrik senjata, di Semarang ia membangun pabrik meriam dan di Batavia ia membangun sekolah militer. Kastil di Batavia dihancurkannya dan diganti dengan benteng di Meester Cornelis (kini Jatinegara). Di Surabaya dibangunnya Benteng Lodewijk. Proyek utamanya, yaitu Jalan Raya Pos, sebenarnya dibangunnya juga karena manfaat militernya, yaitu untuk mengusahakan tentara-tentaranya bergerak dengan cepat.



I.                   Kedatangan Daendels

Ketika VOC dianggap kurang kontribusi yang positif terhadap kas negara pemerintahan Belanda maka pada tanggal 31 Desember 1799 VOC dibubarkan. Bersamaan dengan hancurnya VOC, di Eropa sedang terjadi krisis politik, yaitu adanya politik ekspansif  Napoleon Bonaparte terhadap Belanda. Raja Willem berhasil meloloskan diri ke Inggris dan mendapatkan jaminan akan dilindungi apabila seluruh wilayah Indonesia diserahkan kepada Inggris. Di pihak Perancis, dengan dikuasainya Belanda berarti semua jajahan berada di bawah tanggung jawab Perancis. Maka dari itu dikirimkanlah Marsekal Herman Willem Daendels ke Batavia tahun 1808 sebagai gubernur Jenderal dengan mengemban tugas pokok untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris.
Daendels melakukan berbagai tindakan yang sangat merugikan bangsa Indonesia bahkan sering terjadi konflik dengan para penguasa pribumi yang dianggap terlalu jauh ikut campur urusan keratin. Pulau Jawa dibagi menjadi 9 wilayah (prefektur), setiap prefektur dikepalai seorang residen yang membawahi para bupati yang dilarang memungut upeti dari rakyat.

II.                Kebijakan Politik dan Ekonomi Daendels

Daendels menjalankan pemerintahannya dengan memberantas sistem feodal yang sangat diperkuat oleh VOC. Untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, serta hak-hak bupati, mulai dibatasi terutama yang menyangkut penguasaan tanah dan pemakaian tenaga rakyat. Baik wajib tanam dan wajib kerja akan dhapuskannya. Hal ini tidak akan mengurangi pemerasan oleh penguasa tetapi juga lebih selaras dengan prinsip kebebasan berdagang. Kondisi pada waktu itu menjadi hambatan pokok bagi pelaksanaan ide-ide bagus tersebut.
Keadaan yang masih berlaku zaman VOC adalah bahwa para bupati dan penguasa daerah lainya masih memegang peranan dalam perdagangan. Sebagai perantara mereka memperoleh keuntungan, antara lain berupa prosenan kultur, ialah presentase tertentu dari harga tafsiran penyerahan wajib dan kontingen yang dipungut dari rakyat. Sistem itu membawa akibat bahwa pasaran bebas tidak berkembang dan tidak muncul suatu golongan pedagang, suatu unsur sosial yang lazim berperan penting dalam proses liberalisasi masyarakat feodal atau tertutup.
Faktor penghambat kedua ialah bahwa dalam sruktur feodal itu kedudukan bupati sangat kuat, sehingga setiap tindakan perubahan tidak dapat berjalan tanpa kerja sama mereka. Kepemimpinannya berakar kuat dalam masyarakat sehingga tidak mudah menggeser kedudukannya, jangankan mengurangi kekuasaan dan wewenangnya.
Faktor ketiga terdapat dalam tugas pemerintahan Daendels sendiri yang perlu mempertahankan Pulau Jawa terhadap serangan Inggris. Sehubungan dengan itu perhubungan di Jawa perlu dibangun, antara lain pembuatan jalan raya yang menghubungkan daerah-daerah di Jawa dari Anyer sampai Panarukan, kemudian dikenal sebagai Jalan Raya Pos ( Grote Posweg ). Untuk keperluan pembangunan raksasa ini dibutuhkan tenaga rakyat, maka itu wajib kerja ( verplichte dienstern ) dipertahankan. Di samping itu wajib penyerahan juga masih berlaku, sehingga pada masa pemerintahan Daendels sebenarnya sistem tradisional masih berjalan terus. Dengan dibangunnya Jalan Raya Pos diletakkannya prasarana yang sangat penting bagi perkembangan ekonomi, sosial dan politik Jawa, tidak hanya dalam bidang transportasi  tetapi juga dalam bidang administrasi pemerintahan dan mobilitas sosial.
Sesuai dengan prinsip-prinsip kebijaksanaanya Daendels membatasi kekuasaan para raja, antara lain hak mengangkat penguasa daerah diatur kembali, termasuk larangan untuk menjual-belikan jabatan itu. Karena mengadakan pemberontakan maka kesultanan Banten dihapuskan.
Terhadap raja-raja di Jawa, ia bertindak keras, tetapi kurang strategis sehingga mereka menyimpan dendam kepadanya. Jadi ketika orang-orang Inggris datang, maka mereka bersama-sama dengan para raja "mengkhianati" orang Belanda. Selain itu Daendels memaksa rakyat Jawa untuk melaksanakan kerja rodi secara berat. Belum pernah mereka sebelumnya disuruh bekerja keras seperti itu.
Di sisi lain dikatakan bahwa Daendels mebuat birokrasi menjadi lebih efisien dan mengurangi korupsi. Tetapi ia sendiri dituduh korupsi dan memperkaya diri sendiri. Akhirnya ia dipanggil pulang oleh Perancis dan kekuasaan harus diserahkan kepada Jan Willem Janssens, seperti diputuskan oleh Napoleon Bonaparte.

III.       Pemerintahan Daendels

Gubernur Jendral Daendels mengambil tindakan-tindakan yang tegas, ia memberikan gaji yang tetap kepada para pegawai, melarang mereka menerima pemberian-pemberian dan melakukan perdagangan. Pada waktu itu perdagangan oleh para pegawai belum dapat dilarang dengan mutlak, karena belum ada golongan pedagang yang sesungguhnya. Dengan tindakan Daendels ini maka, maka korps pegawai warisan dari kompeni kuno mendapat sifat-sifat korps pegawai dalam arti modern. Dasar untuk suatu pemerintahan yang dapat melakukan tugasnya tanpa terpaksa harus selalu memikirkan kepntingannya sendiri, baru diletakkan pada waktu itu. Dengan pemberian gaji yang tetap, maka barulah korps pegawai mempunyai jiwa baru. Proses modernisasi dari abad ke-19 itu dimulai leh Daendels dengan memodernisasi lapisan atas orang-orang Eropa.
Pengiring-pengiring bupati dikurangi. Semua kepala, juga kepala desa di kabupaten-kabupaten, selanjutnya akan diangkat oleh pemerintah. Para residen harus melindungi penduduk dari penganiyayaan-penganiyayaan. Ia memberikan jaminan, bahwa penduduk desa yang menebang pohon-pohon akan menerima upah penebangannya. Daendels menghapuskan penyerahan wajib benang-benang kapas dan nila di pantai timur barat. Dalam tahun 1808 ia melarang menyewakan desa, tetapi ia mengecualikan desa-desa, yang mengusahakan penggilingan gula, pembuatan garam dan sarang-sarang burung. Semua itu dimaksudkan untuk mengurangi beban rakyat.
Tetapi, disamping itu ada pula beban-beban yang ditambahkan. Penanaman wajib dari kopi, yang diselenggarakan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, diperluas oleh Daendels. Untuk membuat jalan Pos yang besar dituntutnya rodi yang berat. Jalan dibuat untuk kepentingan militer, tetapi kemudian menjadi penting untuk perekonomian.
Dibawah Daendels semua penyerahan masih tetap, penyerahan wajib dan semua pekerjaan adalah tetap pekerjaan wajib. Jadi pergaulan hidup masih tetap terikat secara adat. Oleh pembuatan jalan dan penanaman kopi itu, sifat tidak diperlemah tetapi malah diperkuat.
Peraturan-peraturan Daendels itu memerlukan lebih banyak perhatian dan pengawasan oleh orang-orang Eropa di daerah-daerah pedalaman. Keadaan ini dan pemerintahan Daendels yang bekerja secara sentral agaknya menyebabkan pengaruh Eropa pada waktu itu menjadi tambah dalam dan makin merosotnya kedudukan para bupati.
Di Kesultanan Cirebon dan Banten, Daendels memperbesar pengaruh Eropa. Di Banten peraturan-peraturan Daendels lebih keras lagi dengan tujuan supaya dapat menuntut rodi untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan militer, dan hal ini pulalah yang menyebabkan peperangan yang dilakukan Daendels terhadap Banten. Peperangan ini adalah permulaan dari rentetan peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan dihapuskannya Kesultanan Banten.
Pemerintahan Daendels dapat dikatakan bahwa ia tidak mengganggu struktur ekonomi pergaulan hidup yang tradisional, melainkan mengaturnya dan bahwa pengaruh barat dibawah pemerintahannya telah mulai menyampingkan para bupati. Daendels adalah seorang pemuja ( Bewonderaar ) Napoleon dengan pendapatnya mengenai pemerintahan sentral dan kuat serta tentang administrasi negara. Di Jawa Daendels menjelmakan sebagian dari pada pendapat tersebut.

IV.  Akhir Pemerintahan Daendels
Di sisi lain dikatakan bahwa Daendels mebuat birokrasi menjadi lebih efisien dan mengurangi korupsi. Tetapi ia sendiri dituduh korupsi dan memperkaya diri sendiri. Akhirnya ia dipanggil pulang oleh Perancis dan kekuasaan harus diserahkan kepada Jan Willem Janssens, seperti diputuskan oleh Napoleon Bonaparte.Pemanggilan pulang ini dipertimbangkan oleh Napoleon sendiri. Dalam rangka penyerbuan ke Rusia, Napoleon memerlukan seorang jenderal yang handal dan pilihannya jatuh kepada Daendels. Dalam korps tentara kebanggaan Perancis (Grande Armee), ada kesatuan Legiun Asing (Legion Estranger) yang terdiri atas kesatuan bantuan dari raja-raja sekutu Perancis. Di antaranya adalah pasukan dari Duke of Wurtemberg yang terdiri atas tiga divisi (kira-kira 30 ribu tentara). Tentara Wurtemberg ini sangat terkenal sebagai pasukan yang berani, pandai bertempur tetapi sulit dikontrol karena latar belakang mereka sebagai tentara bayaran pada masa sebelum penaklukan oleh Perancis. Napoleon mempercayakan kesatuan ini kepada Daendels dan dianugerahi pangkat Kolonel Jenderal.
Ketika tiba di Paris dari perjalanannya di Batavia, Daendels disambut sendiri oleh Napoleon di istana Tuiliries dengan permadani merah. Di sana ia diberi instruksi untuk memimpin kesatuan Wurtemberg dan terlibat dalam penyerbuan ke Rusia pada tanggal 22 Juni 1812.  Sekembali Daendels di Eropa, Daendels kembali bertugas di tentara Perancis. Dia juga ikut tentara Napoleon berperang ke Rusia. Setelah Napoleon dikalahkan di Waterloo dan Belanda merdeka kembali, Daendels menawarkan dirinya kepada Raja Willem I, tetapi Raja Belanda ini tidak terlalu suka terhadap mantan Patriot dan tokoh revolusioner ini. Tetapi biar bagaimanapun juga, pada tahun 1815 ia ditawari pekerjaan menjadi Gubernur-Jendral di Ghana. Ia meninggal dunia di sana akibat malaria pada tanggal 8 Mei 1818.

Daftar Pustaka

Prof. Dr. H. Burger. Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia. 1957 . Jakarta :                
Universitas Indonesia   

Sartono Kartodirjo. Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900. 1988. Jakarta :
Gramedia
www.wikipedia.com

1 komentar:

  1. dong rakie le gawe blog.......tulisan puteh kon moco........woco dewe konoh

    BalasHapus