Pages

Selasa, 05 April 2011

WAWASAN NUSANTARA KUNO



A. Wawasan nusantara I
 Latar belakang
Mula –mula yang harus kita ketahui dari konsep wawasan nusantara yang pertama ini adalah perluasan Cakrawala Mandala yang dikemukakan oleh Raja Kertanegara dari kerajaan Singosari. Gagasan perluasan Cakra Mandala sampai keluar Jawa dan meliputi seluruh Dwipantara. Pada tahun 1275 Kertanegara mengirimkan ekspedisi untuk menaklukkan tanah melaya yang dikenal dengan nama ekspedisi Pamalayu. Hasil daripada ekspedisi ini baru akan sampai pada masa kerajaan Majapahit, dan pada masa itu Kertanegara sudah meninggal. Perluasan wilayah ini semata-mata dipengaruhi dengan adanya seorang raja Khubilai Khan yang ingin memperluas wilayahnya dan tidak luput tanah jawa juga menjadi incaran perluasan wilayah khubilai khan. Dan karena sebab itu maka raja Kertanegara yang yang semula hanya ingin memperluas wilayahnya meliputi seluruh jawa kemudian mulai berpikir untuk memperluas wilayah sampai keluar pulau jawa.
Tujuan
Tujuan dari ekspedisi Pamalayu ini sudah jelas yaitu untuk meguasai tanah melayu dibawah kekuasaan raja Kertanegara. Sedangkan untuk tujuan lainnya yaitu untuk menyaingi dan menghindari ancaman Khubilai khan yang ingin memperluas kekuasaannya yang mana tanah Jawa tidak luput dari incaran Khubilai Khan maka untuk menghindari hal itu raja Kertanegara mengalihkan perluasan wilayah yang semula hanya meliputi tanah Jawa menjadi memperluas kekuasaan keluar Jawa. Dalam bidang keagamaan raja kertanegara juga berusaha untuk menyaingi Khubilai Khan yaitu dengan menganut juga agama Budha Tantrayana dari aliran kalacakra yang mana aliran ini banyak dianut oleh raja-raja dari Tibet karena dianggap sesuai dengan jiwa mereka. Demikian persiapan yang dilakukan oleh raja Kertanegara untuk menghadapi Khubilai Khan, setelah dirinya merasa cukup kuat maka utusan Khubilai Khan yang datang pada tahun 1289 dan meminya pengakuan Kertanegara untuk tunduk kepada Khubilai Khan ditolaknya dan dilukai mukanya sehingga membuat khubilai khan marah dan mengirim tentara untuk menghukum Kertanegara, utusan yang mukanya dilukai oleh Kertanegara itu bernama Meng-Ch’i. Tetapi sebelum tentara Khubilai Khan berhasil menghukum Kertanegara, kertanegara sudah lebih dulu mati karena serangan Jayakatwang dari kerajaan Kediri.
Keberhasilan
Raja Kertanegara memperoleh keberhasilan dalam memperluas wilayah Cakra Mandalanya itu pada tahun 1280 baginda raja membinasakan raja durjana yang bernama Mahisa Rangkah dan pada tahun 1284 menaklukkan Bali, demikian seluruh wilayah daerah tunduk dibawah kekuasaan raja Kertanegara yaitu seluruh Pahang, seluruh Gurun seluruh Bakulapura juga sunda dan Madura. Pahang terletak di Malaysia, Gurun nama pulau di Indonesia bagian timur dan Bakulapura atau tanjung pura yang terletak di bagian barat daya Kalimantan. Kekuasaan Kertanegara atas seluruh wilayah nusantara ini entah benar atau hanya sebagai simbolis saja dalam prasasti yang tertera pada bagian belakang arca Camundi dari desa Ardimulyo yang berangka tahun 1292. dalam prasasti itu dikatakan bahwa arca Bhattari Camudi ditasbihkan pada waktu raja Kertanegara menang diseluruh wilayah dan menundukkan semua pulau-pulau yang lain. Bukti-bukti yang lainnya juga masih banyak lagi. Sedangkan hasil dari ekspedisi Pamalayu yang dikirim oleh Kertanegara dulu rupanya juga membawa hasil yang menggembirakan tetapi hasil dari pasukan ini baru dating pada saat raja Kertanegara sudah meninggal dunia dan pada waktu itu telah berdiri kerajaan baru yang didirikan oleh Raden Wijaya yaitu kerajaan Majapahit yang juga mempunyai konsep gagasan Wawasan Nusantara seperti pada waktu raja Kertanegara dari Singosari masih hidup.
B. Wawasan Nusantara II
Latar Belakang
Wawasan Nusantara II tidak lepas dari kerajaan Majapahit dan juga serang Mahapatih yang sangat hebat yaitu Gajah Mada dengan sumpah Palapanya. Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya yang dibantu oleh Arya Wiraraja. Singasari yang pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara dapat dihancurkan oleh Jayakatwang dari kerajaan Kediri, atas bantuan dari Arya Wiraraja Raden Wijaya dapat mengambil hati Jayakatwang dan diberi sebidang tanah didaerah Tarik dan diubah menjadi desa dengan nama Majapahit. Diam-diam Raden Wijaya menghimpun kekuatan untuk menyerang Jayakatwang, dan pada suatu ketika datang pasukan Khubilai Khan yang diperintahkan untuk menghukum Kertanegara yang telah lebih dahulu dibunuh oleh serangan dari Jayakatwang. Atas kecerdikan Raden Wijaya tentara Khubilai Khan buat agar menyerang Jayakatwang dan penyerangan itu berhasil dan Jayakatwang mati. Sedangkan Raden Wijaya kemudian menyerang tentara Khubilai Khan tersebut dan dapat mengusirnya dari tanh Jawa, kemudian Raden Wijaya naik tahta kerajaan Majapahit. Tidak lama setelah penobatan Raden Wijaya sebagai raja datang tentara Singosari yang dulu diperintahkan untuk melakukan ekspedisi Pamalayu dengan membawa hasil yang gemilang. Banyak raja-raja di melayu yang tunduk dan memberi upeti, raja Melayu mempersembahkan dua orang puteri untuk Raden Wijaya yaitu Dara Petak dan Dara Jingga. Pada masa selanjutnya saat Majapahit diperintah oleh Jayanegara muncul suatu pemberontakan yang dilakukan oleh kuti, tetapi pemberontakan tersebut dapat ditumpas oleh seorang tokoh yang nantinya akan memberi kebesaran pada Majapahit yaitu Gajah Mada. Pengganti Jayanegara adalah Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardani yang mana pada masa pemerintahannya Gajah Mada mgucapkan sumpah sakti yang sangat terkenal yaitu sumpah Palapa, yang intinya dia tidak akan mengecap kesenanangan sebelum seluruh nusantara dapat dipersatukan dibawah kekuasaan Majapahit. Karena sumpahnya gajah mada mencoba dengan segala cara untuk mempersatukan Nusantara dibawah Majapahit, hal yang sama juga pernah digagas oleh Kertanegara dengan perluasan Cakra Mandala ke seluruh nusantara dan ini semua merupakan sebuah konsep Wawasan Nusantara.
Tujuan
Tujuan dari Wawasan Nusantara pada masa Majapahit ini tdak berbeda dengan sumpah Palapa Gajah Mada yaitu mempersatukan seluruh wilayah nusantara dibawah kekuasaan Majapahit. Dalam usahanya itu Gajah Mada banyak melakukan perluasan kekuasaan ke luar pulau jawa
Keberhasilan
Gajah Mada dalam melakukan perluasan kekuasaan Majapahit dan juga dalam pelaksanaan sumpah Palapanya banyak memperoleh keberhasilan. Didalam kitab Negarakertagama terdapat syair yang menyatakan bahwa yang dikenal dengan sebutan Nusantara itu meliputi Sumatera, Jawa-Madura, Sunda, Kalimantan, Sulawesi, Maluku-Ambon, Semenanjung Melayu, dan Irian. Inilah Nusantara yang dikenal oleh Majapahit dan Mahapatih Gajah Mada. Itulah sebuah gugusan pulau yang disebut Nusantara dari dulu sampai sekarang. Dalam riwayatnya mempersatukan Nusantara Gajah Mada juga melakukan suatu kesalahan yang sungguh sangat mencoreng nama besarnya. Kejadian itu dikenal dengan peristiwa bubat, yang man kejadinnya berawal ketika raja Hayam Wuruk bermaksud hendak mengambil puteri sunda Dyah Pitaloka sebagai permaisurinya, setelah putrid tersebut dan ayahnya beserta para pembesar dan pengiring kerajaan sunda datang ke Majapahit terjadi perselisihan dengan Gajah Mada. Dia menginginkan agar puteri sunda tidak menikah dengan Hayam Wuruk secara cuma-cuma tetapi, puteri sunda dipersembahkan kepada Hayam Wuruk sebagai tanda bahwa kerajaan Sunda tunduk kepada Majapahit, akan tetapi para pembesar kerajaan Sunda tidak setuju dengan keinginan Gjah Mada tersebut, maka kemudian tempat perkemahan para pembesar dan pengiring puteri Dyah Pitaloka yang berada di lapangan Bubat dikepung dan diserang oleh Gajah Mada dan terjadilah peperangan, semua orang sunda yang berada ditempat itu gugur dibunuh oleh tentara Gajah Mada. Akibatnya terjadi keretakan hubungan antara Gajah Mada dengan raja Hayam Wuruk. Sepeninggal Gajah Mada dan Hayam Wuruk didalam kerajaan Majapahit terjadi perang saudara yang mengakibatkan perpecahan dalam tubuh kerajaan sampai akhirnya kerajaan Majapahit runtuh yang mana keruntuhan Majapahit tersimpul dalam candra sangkala Sirna Ilang Kertining Bumi (1400 Saka). Kerajaan Majapahit memberikan kepada kita konsep Wawasan Nusantara seperti yang kita kenal sekarang ini.   

Sumber
  1. Nugroho Notosusanto,Sejarah Nasional Indonasia II, Jakarta: balai pustaka, 1993
  2. Poerbatjaraka, R. Ng., Riwayat Indonesia I. Pembangunan, Jakarta, 1952
  3. Soecipto Wirjosuparto, R.M.,’Apa Sebabnya Kediri dan Daerah sekitarnya tampil kemuka dalam sejarah?’,LKIPN-I, V, Seksi D, 1958

1 komentar: